Proskastinasi 2
Pendidikan merupakan kunci bagi suatu
bangsa untuk bisa menyiapkan masa depan
dan sanggup bersaing dengan bangsa lain.
Dunia pendidikan dituntut memberikan
respon lebih cermat terhadap perubahanperubahan
yang tengah berlangsung di
masyarakat. Masyarakat pasca modern
menghendaki adanya perkembangan total,
baik dalam visi, pengetahuan, proses
pendidikan, maupun nilai-nilai yang harus
dikembangkan bagi peserta didik, untuk
menghadapi tantangan masa depan yang
semakin kompleks. Indonesia dimasa depan
mengisyaratkan perlunya Sumber Daya
Manusia (SDM) yang kreatif, mandiri,
inovatif dan demokratis, maka dunia pendidikan yang harus mempersiapkan dan
menghasilkannya (Widayati, 2002, h. 6).
Alternatif pendidikan yang ditawarkan untuk
menghasilkan SDM yang berkualitas
diantaranya adalah sekolah berasrama
(boarding school) yang berada di lingkungan
pondok pesantren. Belajar di sekolah
berasrama berbeda dengan belajar disekolah
biasa. Secara umum, orang tua
menyekolahkan anak di sekolah berasrama
dengan pertimbangan memiliki waktu belajar
yang lebih panjang dan lebih fokus,
memungkinkan anak untuk lebih mandiri dan
lebih siap dalam mempersiapkan berbagai
macam tantangan yang akan dihadapinya
dimasa yang akan datang. Siswa-siswa
sekolah asrama di wajibkan untuk tinggal di
lingkungan sekolah dan sekolah telah
menyiapkan tempat untuk para siswa,
kegiatan yang dilaksanakan selalu berada di
area sekolah (Republika, 2007).
Sekolah-sekolah yang memadukan materi
agama dengan materi umum banyak diminati,
adanya persepsi sebagian orang bahwa
lembaga yang mampu menghasilkan manusia
yang mempunyai moralitas dan tingkat
keimanan yang tinggi adalah pesantren, maka
banyak masyarakat yang tertarik dengan
lembaga pesantren, terutama pesantren yang
memuat kurikulum agama dan umum secara
seimbang (Yuniar dkk, 2005, h. 11), salah
satunya adalah Pondok Pesantren Darul
Ulum.
Pondok pesantren Darul Ulum merupakan
pondok pesantren modern yang memiliki
sistem pengajaran seperti sekolah-sekolah
umum lainnya, dan memiliki kurikulum
bukan hanya pendidikan agama namun
diimbangi dengan pendidikan umum
(Abdullah dkk, 2008, h. 2). Pondok Pesantren
Darul Ulum memiliki 12 unit pendidikan
swasta, dan bekerjasama dengan Departemen
Pendidikan untuk mengelola SMP N 3
Peterongan yang berada di dalam wilayah
Pondok Pesantren Darul Ulum.
SMPN 3 Peterongan adalah SMP N yang
memiliki ciri khas sendiri karena merupakan
SMP N yang berstandart internasional namun
berada dibawah naungan pondok pesantren.
Perbedaan SMP N 3 Peterongan dengan SMP
N lain salah satunya dalam hal kurikulum,
SMP N 3 memiliki kurikulum yang
memadukan kurikulum pendidikan nasional
dan kurikulum kepondokan, ditambah lagi
kegiatan ekstrakurikuler yang ada disekolah,
siswa SMP N 3 juga tinggal di asrama yang
disediakan oleh pondok pesantren. Siswa juga
harus mematuhi semua peraturan yang ada,
bukan hanya peraturan dari sekolah tetapi
juga peraturan asrama dan pondok pesantren.
Siswa dan siswi tinggal pada asrama yang
terpisah, namun masing-masing asrama
memiliki peraturan dan kegiatan yang hampir
sama karena telah diatur oleh yayasan pondok
pesantren, asrama memiliki hak untuk
membuat kebijakan sendiri namun tetap atas
persetujuan yayasan pondok pesantren.
Asrama yang disediakan tidak hanya untuk
siswa SMP N 3, tetapi untuk semua unit
pendidikan yang ada di yayasan Pondok
Pesantren Darul Ulum, mulai dari siswa SMP
hingga mahasiswa. Masing-masing siswa
ditempatkan pada kamar yang berbeda sesuai
unit pendidikannya.
Tujuan yang ingin dicapai Pondok Pesantren Darul Ulum dengan mewajibkan siswanya
untuk tinggal di asrama yang telah disediakan
adalah agar anak dapat belajar dengan efektif
sehingga bisa menguasai pengetahuan agama
dan umum yang diterima. Sebagian orang tua
juga memasukan anaknya ke pondok
pesantren modern memiliki harapan yang
sama, ingin melihat anak-anak lebih memiliki
waktu yang efektif untuk belajar dengan
adanya aturan yang ketat dari pihak asrama,
namun kenyataannya siswa SMP N 3 yang
sedang menghadapi perubahan yang
serempak dalam diri dan lingkungannya
mengalami masalah tersendiri untuk
mengikuti jadwal kegiatan yang sangat padat
dibandingkan saat siswa masih berada
dirumah.
Keadaan yang telah diatur dari mulai situasi
asrama hingga jadwal kegiatan di asrama
dibuat demi kepentingan siswa namun
membawa permasalahan tersendiri bagi siswa
SMP N 3, siswa diasrama tinggal dengan
fasilitas yang berbeda dengan di rumah, siswa
SMP N 3 diwajibkan mengikuti kegiatankegiatan
asrama yang berbeda dengan
kegiatan sekolah, diasrama siswa
mendapatkan pendidikan keagamaan lebih
banyak dibandingkan dengan sekolah biasa.
Siswa dituntut agar dapat membagi waktu
antara belajar materi di sekolah dan asrama
dengan suasana yang sangat berbeda dengan
dirumah. Siswa SMP N 3 tinggal dengan
teman-temannya dalam satu kamar yang
berjumlah kurang lebih 20 orang dengan
suasana dan situasi yang tidak begitu kondusif
untuk belajar, mereka harus pintar mencari
waktu dan tempat sendiri untuk belajar.
Keadaan tersebut membuat beberapa siswa
SMP N 3 menjadi kurang termotivasi untuk
belajar atau mengerjakan tugas yang
diberikan oleh guru, salah satu siswa
mengaku terlalu lelah dengan aktivitas diluar
sekolah, beberapa siswa mengaku karena
banyaknya tugas yang harus diselesaikan
membuat siswa merasa memiliki waktu yang
sangat terbatas untuk mengerjakan tugas dan
sebagian lagi sering remidi karena nilai ujian
harian kurang karena sulitnya menemukan
keadaan yang kondusif untuk belajar.
Keadaan tersebut membutuhkan kemampuan
menyesuaikan diri yang baik agar tidak
timbul masalah-masalah saat menghadapi
perkembangan di asrama.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa
transisi dari SD ke SMP juga dialami oleh
siswa SMP N 3 Peterongan. Siswa SMP N 3
adalah seseorang yang beralih dari masa
kanak-kanak menuju masa remaja, biasanya
berusia antara 13-16 tahun. Transisi ke
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari
Sekolah Dasar (SD) adalah transisi yang
berlangsung pada suatu masa ketika banyak
terjadi perubahan fisik, kognitif dan sosial
pada diri individu yang berlangsung secara
serempak.
Siswa-siswa kelas VII yang mengalami masa
transisi dari SD ke SMP mengalami “top-dog
phenomenon” yang merupakan keadaan
bergerak dari posisi teratas (kondisi siswa
menjadi paling tua, paling besar, dan paling
berkuasa di sekolah) ke posisi terendah (siswa
menjadi paling muda, paling kecil dan paling
lemah). Tahun pertama di SMP dapat
menyulitkan banyak siswa (Santrock, 2002,
hal.16). Siswa SMP N 3 Peterongan harus
menghadapi perubahan yang terjadi di dalam
dirinya tanpa orang tua dan pada lingkungan
baru yang menuntut siswa untuk hidup
mandiri yaitu asrama di lingkungan pondok
pesantren. Asrama siswa SMP N 3 memiliki
keadaan dan peraturan yang jauh berbeda
dengan di rumah. Padatnya jadwal yang
diterima siswa SMP N 3 di asrama kemudian
memberikan dampak lain terhadap pola
kehidupannya. Setiap hari siswa dibebani oleh
kegiatan-kegiatan yang tidak ringan mulai
dari bangun tidur hingga tidur kembali diatur
sedemikian rupa (Yuniar dkk, 2005, h. 11).
Siswa berusaha untuk mengikuti jadwal yang
ada namun karena kurangnya pengawasan
dari pihak asrama dapat menimbulkan
dampak tersendiri bagi perilaku pelanggaran
yang dilakukan siswa.
Santrock (2003, h. 286) berpendapat bahwa
sekolah yang besar, terutama yang
mempunyai siswa lebih dari 500-1000 orang
murid, kemungkinan tidak menyediakan iklim
personal yang memungkinkan sistem kontrol
sosial yang efektif. Siswa mungkin dapat
merasa asing dan tidak memiliki tanggung
jawab terhadap perilaku. Siswa SMP N 3
rentan dengan keadaan rendah pengawasan di
asrama, jumlah ustadzah yang terbatas, tidak
sebanyak siswa yang ada di asrama membuat
pihak asrama sendiri tidak mampu untuk
melakukan pengawasan secara maksimal
terhadap siswanya, sehingga sering terjadi
pelanggaran sebagai akibat dari kontrol yang
rendah dari pihak asrama. Salah satu dampak
dari kontrol yang rendah tersebut adalah
munculnya perilaku prokrastinasi pada
sebagian siswa.
Istilah prokastinasi pertama kali digunakan
oleh Brown dan Holtzman (Manual Surveys
of Study Habits and Attitude, 1967), Istilah
prokrastinasi digunakan untuk
menggambarkan sesuatu kecenderungan
menunda-nunda penyelesaian suatu tugas atau
pekerjaan sehingga seseorang gagal
menyelesaikan tugas-tugas tersebut tepat pada
waktunya (Wie, 2008). Solomon dan
Rothblum
(Ferrari, 1995, h. 77) mendefinisikan
prokrastinasi sebagai suatu penundaan yang
sengaja dilakukan pada tugas penting,
dilakukan berulang-ulang secara sengaja dan
menimbulkan perasaaan tidak nyaman secara
subjektif. Siswa siswi SMP N 3 memiliki
waktu yang sedikit untuk bermain dengan
teman-teman sebaya mereka, terkadang waktu
yang seharusnya digunakan untuk belajar
seringkali digunakan untuk berbincangbincang
dan bermain bersama-sama teman
satu kamar, sebagian siswa yang tinggal di
asrama muzamzamah mengaku bahwa
sebenarnya ingin belajar, namun melihat
teman-temannya bergurau, siswa tertarik
untuk ikut dalam permainan teman-temannya
dengan alasan ingin mencari hiburan karena
jenuh dengan aktivitas yang sudah dijalani di
sekolah dan di asrama. Asrama telah
memberikan waktu khusus bagi para santri
untuk belajar, namun digunakan untuk
bersantai, tidur-tiduran, bercanda dengan
teman ataupun membaca hal-hal yang
membuat lebih santai dari pada belajar.
Prokrastinasi akademik mampu suatu
kebiasaan yang dapat menimbulkan berbagai
konsekuensi negatif, seperti waktu menjadi
terbuang sia-sia dan tugas-tugas menjadi
terbengkalai.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya perilaku prokrastinasi akademik,
Ferrari (1995, h.34-45) menyebutkan
beberapa faktor yangmempengaruhi
prokrastinasi akademik, pertama faktor
internal yaitu faktor dalam diri individu yang
turut membentuk perilaku prokrastinasi,
meliputi faktor fisik seperti kondisi fisiologis
seseorang yang mendorong kearah
prokrastinasi seperti kelelahan dan faktor
psikologis seseorang yang meliputi tipe
kepribadian dan motivasi, semakin tinggi
motivasi intrinsik yang dimiliki individu
ketika menghadapi suatu tugas, akan semakin
rendah kecenderungan untuk melakukan
prokrastinasi. Kedua faktor eksternal meliputi
banyaknya tugas yang menuntut penyelesaian
pada waktu yang hampir bersamaan, kondisi
lingkungan dan pengasuhan otoriter ayah.
Kondisi lingkungan yang kondusif untuk
melakukan prokrastinasi terjadi pada
lingkungan yang rendah dalam pengawasan.
Apabila tidak diawasi seseorang mungkin
telah merencanakan untuk mulai mengerjakan
tugas pada waktu yang ditentukan sendiri,
akan tetapi ketika saatnya tiba tidak
dilaksanakan sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan sehingga menyebabkan
keterlambatan
maupun kegagalan dalam menyelesaikan
tugas (Bijou dkk, dikutip Ferrari, 1995, h.32).
Keadaan tersebut rentan terjadi pada siswa
siswi SMP N 3, di rumah siswa tidak lepas
dari pengawasan orang tua, kapan mereka
harus belajar dan bermain, namun di asrama
siswa sama sekali tidak diawasi secara fokus
oleh pengasuh asrama karena banyaknya
siswa. Siswa terbiasa hidup dengan kontrol
orang tua, namun di asrama siswa dituntut
untuk mandiri dan mengerjakan apa yang
harus dikerjakan terlebih dahulu sesuai
dengan kontrol pribadinya.
Keadaan di asrama dengan peraturan dan
kondisi yang berbeda dengan di rumah bisa
menjadi sumber tekanan (stresor) sehingga
dapat menyebabkan stres. Akibat buruk stres
adalah kelelahan hingga mengakibatkan
turunnya produktivitas dalam belajar maupun
aktivitas pribadi (Rumiani, 2006, h.37). Siswa
yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan
kondisi lingkungan merasa mendapat tekanan,
yang menyebabkan stres dan siswa memiliki
kecenderungan untuk melakukan aktivitas
yang lebih menyenangkan daripada belajar.
Penyesuaian diri merupakan hal yang penting
bagi siswa SMP N 3 yang tinggal di Asrama
Muzamzamah, bila siswa tidak mampu
menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat
tinggalnya yang baru siswa akan mengalami
banyak konflik dan fokus yang dihadapi
bukan lagi masalah akademik, namun
masalah-masalah lain diluar akademiknya.
Lazarus (1963, h.7) mengatakan bahwa
menyesuaikan berasal dari kata ”to adjust”
yang berarti untuk membuat sesuai atau
cocok, beradaptasi, atau mengakomodasi.
Lazarus juga menyatakan bahwa penyesuaian
terdiri dari proses bagaimana individu
mengatur berbagai ”demands” atau
permintaan. Permintaan yang dimaksud yaitu
dapat bersumber dari eksternal atau dari
internal diri siswa, dan bahkan dapat terjadi
konflik antar permintaan. Siswa atau pelajar
yang dapat menyesuaikan diri dengan
permintaan lingkungannya diharapkan tidak
mengalami permasalahan dalam proses
pencapaian prestasi akademik. Remaja yang kurang berhasil dalam
menyelaraskan diri dengan dirinya sendiri
maupun dengan lingkungan seringkali
membuat pola-pola perilaku yang keliru atau
disebut dengan maladjustment. Perilaku yang
tidak sesuai yang dilakukan remaja biasanya
didorong oleh keinginan mencari jalan pintas
dalam menyelesaikan sesuatu tanpa
mendefinisikan secara cermat akibatnya
(Republika, 2007). Siswa yang kurang dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan akan
merasa tertekan dan banyak menghadapi
konflik dalam menghadapi tuntutan
lingkungan yang menyebabkan menurunnya
motivasi siswa dalam belajar yang
mempengaruhi hasil belajar siswa nantinya.
Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan
pemahaman lebih jauh tentang penyesuaian
diri siswa SMP N 3 yang tinggal di asrama
lingkungan pondok pesantren dengan semua
peraturan dan kondisi yang baru dan
pengaruhnya terhadap prokrastinasi akademik
siswa. Penelitian ini dilakukan terhadap siswa
siswi kelas VII SMP N 3 yang sedang
mengalami masa transisi dan dituntut untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan yang
jauh dari orang tua dan hidup pada
lingkungan yang memiliki kecenderungan ke
arah prokrastinasi akademik.
METODE
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa
sekolah asrama kelas VII SMP N 3
Peterongan Jombang. Karakteristik subjek
dalam penelitian ini yaitu siswa merupakan
remaja awal usia 12-15 tahun, Siswa kelas
VII reguler (non RSBI) SMP N 3 Peterongan
Jombang, Siswa bertempat tinggal diasrama
pondok pesantren Darul Ulum. Teknik
sampling yang digunakan adalah cluster
random
sampling. Sampel penelitiannya sebanyak 97
siswa. Metode pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan metode self report questionaire
(kuesioner laporan diri). Alat ukur yang
digunakan dalam penelitian ini adalah skala.
Skala yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu Skala Prokrastinasi Akademik dan Skala
Penyesuaian Diri. Sistem penilaian skala
dalam penelitian ini berupa skala Likert.
Teknik analisis data yang digunakan adalah
dengan teknik analisis regresi sederhana.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil yang diperoleh dari uji hipotesis dengan
tehnik analisis regresi sederhana, menunjukan
bahwa ada hubungan yang signifikan antara
penyesuaian diri dengan prokrastinasi
akademik siswa sekolah asrama SMP N 3
Peterongan Jombang yang ditunjukan oleh
hasil koefesien korelasi rxy= -0,463, dengan p
= 0,000 (p<0,05). Koefisien korelasi tersebut
mengindikasikan adanya hubungan antara
variabel penyesuaian diri dengan
prokrastinasi akademik yang cukup kuat
karena terletak antara 0,401 - 0,600 (Triton
2006, hal. 92). Adanya tanda negatif
menunjukan arah hubungan negatif, bahwa
semakin tinggi penyesuaian diri maka
semakin rendah prokrastinasi akademik pada
siswa kelas VII reguler sekolah asrama SMP
N 3 Peterongan Jombang.
Berdasarkan hasil tersebut, hipotesis yang
menyatakan bahwa terdapat hubungan yang
negatif antara penyesuaian diri dengan prokrastinasi akademik siswa sekolah asrama
SMP N 3 Peterongan Jombang terbukti.
Maka, hipotesis yang diajukan pada penelitian
ini diterima. Penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan adanya bukti hubungan negatif
yang sangat signifikan yaitu antara
penyesuaian diri dengan prokrastinasi
akademik siswa sekolah asrama SMP N 3
Peterongan Jombang. Hubungan yang negatif
mengindikasikan bahwa semakin tinggi
penyesuaian diri, maka semakin rendah
kecenderungan melakukan prokrastinasi
akademik. Sebaliknya semakin rendah
penyesuaian diri siswa, maka kecenderungan
untuk melakukan prokrastinasi akademik
semakin tinggi.
Kemampuan siswa untuk menyesuaikan diri
mempunyai pengaruh yang cukup besar pada
keadaan siswa untuk memberikan respon pada
setiap keadaan yang dihadapi. Fatimah,
(2006, h.193) mengatakan bahwa kondisi
fisik, mental dan emosional siswa dipengaruhi
oleh bagaimana siswa mampu menyesuaikan
diri dengan lingkungannya. Siswa yang
memiliki penyesuaian yang baik akan mampu
menghadapi keadaan yang sulit dengan
penyelesaian yang positif.
Padatnya jadwal di asrama dan banyaknya
tugas yang ada diatasi dengan pengaturan
waktu dan pembuatan jadwal, serta
bekerjasama dengan siswa lain untuk
menyelesaikan soal yang sulit, sehingga siswa
tidak melakukan penundaan pada tugas-tugas
akademis. Penelitian Schraw dkk (2007, h.19)
tentang alasan prokrastinasi adalah
mengutamakan kesenangan pribadi. Banyak
siswa berencana ”fun time” saat mereka
merencanakan untuk melakukan
prokrastinasi. Siswa lain menekankan pada
pentingnya keseimbangan stres akademis
dengan rekreasi dan aktivitas sosial. Schraw
menemukan bahwa sekitar 30% hingga 40%
dari rasa senang siswa direncanakan: 60%
hingga 70% terjadi spontan saat siswa
menghentikan kegiatan yang tidak disenangi.
Ketidakmampuan siswa dalam menyesuaikan
diri akan mempengaruhi munculnya
ketegangan dan konflik dalam diri individu
yang dapat memicu munculnya perilaku
prokrastinasi akademik. Menurut hasil
penelitian ini, semakin tinggi penyesuaian diri
maka akan semakin rendah prokrastinasi
akademik, dan sebaliknya semakin rendah
penyesuaian diri maka akan semakin
tinggi prokrastinasi akademik.
Lawton (Hurlock, 1999, h.258) berpendapat
bahwa siswa yang mampu menyesuaikan diri
dengan baik akan mengetahui kapan saat
harus belajar dan kapan saatnya harus
bermain dan segera mengatasi permasalahan
yang menuntut penyelesaian. Terujinya
hipotesis dalam penelitian ini didukung oleh
penelitian Rizvy (dikutip Rachmahana, 2002,
h.135) yang mengungkapkan bahwa tingkat
kecemasan yang tinggi dan kemampuan
adaptasi yang rendah dapat mendorong
ke arah prokrastinasi akademik. Schneider
(1964, h.49) berpendapat bahwa penyesuaian
diri adalah usaha individu untuk berhasil
mengatasi kebutuhan, ketegangan, konflik
dan frustrasi
yang dialami didalam dirinya. Usaha individu
tersebut bertujuan untuk memperoleh
keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan
dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh
lingkungan. Pada siswa SMP N 3 Peterongan
siswa menjalin hubungan dengan teman-emannya karena merasa memiliki keadaan
yang sama, jauh dari orang tua dengan
keadaan yang baru dikenal. Siswa mencoba
untuk mengatasi ketegangan yang muncul
dari keadaan yang baru dihadapi di asrama
dengan mencari teman untuk berbagi
permasalahan, siswa juga mencari pengganti
keluarga dengan mendekati guru atau kakak
kelas untuk berbagi permasalahan dan
meminta nasihat untuk cara penyelesaiannya.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat
diketahui bahwa penyesuaian diri siswa
berada pada kategori tinggi yaitu 43,3 %
subjek penelitian, 49,49% mempunyai tingkat
penyesuaian diri yang sangat tinggi, 5,15%
pada kategori sedang, 1,03% pada kategori
rendah, dan 1,03% pada kategori sangat
rendah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa
sebagian siswa telah memiliki kemampuan
penyesuaian diri yang baik.
Hasil yang berbeda pada saat penelitian bulan
Mei 2010 karena adanya proses penyesuaian
diri pada siswa, diawal masuk asrama pondok
pesantren siswa mengalami perubahan pada
diri dan lingkungannya, siswa merasa
sendirian jauh dari orang tua, namun siswa
belajar untuk menjalin hubungan dengan
siswa lain dan memperoleh keluarga baru,
hubungan yang erat antar siswa membuat
hadirnya keluarga baru dalam asrama,
sehingga siswa merasakan kenyamanan yang
dirasakan dirumah. Siswa bisa saling
membagi masalah dengan teman-temannya.
Hubungan yang baik dengan lingkungan
siswa membuat siswa mampu untuk
menyesuaikan diri dengan baik di asrama.
Fatimah (2006, h.206) berpendapat bahwa
menjalin hubungan yang erat dan harmonis
dengan teman sebaya sangatlah penting pada
masa remaja. Remaja saling bertukar pikiran
dengan teman-temannya mulai dari anganangan
dan perasaan-perasaannya, remaja
mengungkapkan dengan bebas dan terbuka
tentang rencana, cita-cita dan kesulitankesulitan
hidupnya. Pengertian dan saran dari
teman akan membantu remaja dalam
menerima keadaan dirinya serta memahami
hal-hal yang menjadikannya berbeda dengan
orang lain. Semakin remaja mengerti akan
dirinya, remaja akan menemukan cara
penyesuaian diri yang tepat sesuai dengan
keadaannya. Pemilik asrama juga
mengungkapkan bahwa rata-rata siswa SMP
mampu menyesuaikan diri dengan baik dalam
waktu 6 bulan sampai 1 tahun. Keterangan
tersebut sama seperti yang diungkapkan guru
BP SMP N 3 Peterongan yang
mengungkapkan siswa kelas VII biasanya
mengalami banyak konflik di asrama dan
dengan teman-temannya hingga akhir
semester kedua. Saat kelas VIII jarang
ditemukan siswa yang masih mengalami
permasalahan dengan teman atau peraturan
asrama.
Harold dkk (1997, h.237) menyatakan bahwa
stadium perkembangan tertentu seperti awal
masuk sekolah, meninggalkan rumah sering
disertai dengan terjadinya gangguan
penyesuaian pada siswa yang dapat dilihat
pada gejala emosional atau perilaku sebagai
respon stresor yang dapat dikenali yang
terjadi dalam tiga bulan onset stressor, dan
saat stresor berhenti, gejala yang muncul tidak
lebih dari 6 bulan.
Menurut Lawton (Hurlock, 1999, h.258)
siswa yang mampu menyesuaikan diri dengan baik akan mengetahui kapan saat harus
belajar dan kapan saatnya harus bermain dan
segera mengatasi permasalahan yang
menuntut penyelesaian. Siswa akan
mengalami keselarasan dan keseimbangan
sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada
belajar untuk menghasilkan prestasi yang
diharapkan dengan tidak melakukan
penundaan akademik atau yang lebih dikenal
dengan prokrastinasi akademik.
Analisis perolehan tingkat prokrastinasi
akademik ditemukan 50,52% pada kategori
rendah, 35,05% pada kategori sangat rendah,
13,4% pada kategori sedang, 1,03% pada
kategori tinggi, dan 0% pada kategori sangat
rendah. Data yang dihasilkan menunjukkan
bahwa prokrastinasi akademik pada siswa
kelas VII reguler mempunyai kecenderungan
prokrastinasi akademik yang rendah dan
memberi penjelasan bahwa penyesuaian diri
memberikan korelasi negatif terhadap
prokrastinasi akademik.
Solomon dan Rothblum (dalam Orpen 1998,
h.73) mengungkapkan bahwa prokrastinasi
akademik mengacu pada kecenderungan
untuk menangguhkan atau menunda
mengerjakan tugas yang berhubungan dengan
studi seseorang, sehingga tidak dapat
menyelesaikan tugas pada waktunya.
Hasil analisis data menunjukan bahwa pada
saat dilakukan penelitian pada bulan Mei
2010, subjek menunjukan kecenderungan
prokrastinasi akademik yang rendah. Hal
tersebut menunjukan rendahnya prokrastinasi
akademik siswa SMP N 3 Peterongan
Jombang, hasil penelitian tersebut berbeda
dengan hasil wawancara awal dengan subjek
penelitian sebelum dilakukan penelitian. Hasil
wawancara menunjukan adanya prokrastinasi
akademik pada beberapa siswa sebelum
penelitian dilakukan.
Hasil yang berbeda tersebut karena upaya
asrama untuk meningkatkan kontrol dan
managemen waktu yang lebih efektif dan
siswa mengalami proses untuk membiasakan
diri pada jadwal dan peraturan-peraturan yang
ada dalam asrama dan sekolah. Siswa yang
tetap mengalami kesulitan pada semester
pertama hingga kedua akan mengundurkan
diri dari sekolah, hal ini terbukti ada beberapa
siswa yang pindah ke sekolah yang berada
dekat dirumah dengan berbagai macam alasan
seperti tidak bisa tinggal didalam asrama
pondok pesantren, tidak bisa belajar di asrama
dan banyak konflik dengan teman. Hasil
analisis yang menunjukan rendahnya
prokrastinasi akademik pada siswa SMP N 3
Peterongan Jombang karena SMP N 3
Peterongan Jombang merupakan sekolah yang
meskipun berada pada lingkungan pondok
pesantren, namun mempunyai standar
akademik yang tinggi dan membuat siswa
untuk terus belajar dan berusaha menghindari
perilaku prokrastinasi yang dapat membuat
prestasi menurun, sehingga siswa terus
terpacu dan berusaha untuk tidak
meninggalkan tugas-tugas akademiknya.
Santrock (2008, h.470) mengatakan bahwa
sekolah dengan harapan yang tinggi dan juga
standar akademik yang tinggi seringkali
memiliki siswa yang memiliki keinginan
tinggi untuk mencapai prestasi Hukuman
yang tidak ringan dari asrama masing-masing
bagi siswa yang diketahui melanggar
peraturan asrama seperti membolos dan tidak
mengikuti belajar bersama yang diadakan
asrama, membuat siswa belajar untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan. Asrama
juga memberikan pengurus tambahan untuk
mengawasi masing-masing kamar, termasuk
kamar siswa SMP yang dipantau langsung
oleh seniornya seperti siswa SMA dan
mahasiswa yang menjadi pengurus kamar.
Pengurus bertugas mentertibkan siswa,
memantau dan bertanggung jawab pada
permasalahan siswa kemudian melaporkan
pada pemilik asrama. Bijou dkk (dalam
Ferrari dkk, h.26) mengemukakan bahwa
perilaku prokrastinasi akademik muncul
akibat proses pembelajaran. Seseorang
melakukan prokrastinasi akademik karena
individu tersebut pernah mendapatkan
punishment atas perilaku tersebut.
Hasil analisis regresi penelitian ini
memberikan sumbangan efektif sebesar
21,4%, artinya prokrastinasi akademik siswa
sebesar 21,4% ditentukan oleh penyesuaian
diri, dan 78,6% sisanya ditentukan oleh faktor
lain yang tidak diungkap dalam penelitian ini
dan diduga turut berperan dalam munculnya
prokrastinasi akademik siswa.
Hasil analisis data juga menunjukan bahwa
pada saat dilakukan penelitian, subjek
memiliki kemampuan penyesuaian diri tinggi.
Hasil tersebut berarti bahwa siswa SMP N 3
Peterongan Jombang memiliki kemampuan
dalam mengatasi kebutuhan, ketegangan,
konflik dan frustrasi yang dialami didalam
dirinya, yang berasal dari dalam atau luar
individu.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan koefisien korelasi
rxy = -0,463 dengan tingkat signifikansi yang
sangat signifikan dengan nilai p = 0,000 (p <
0,05). Berdasarkan hasil analisis data tersebut
dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
negatif antara variabel penyesuaian diri
dengan prokrastinasi akademik pada siswa
sekolah asrama SMP N 3 Peterongan
Jombang. Hipotesis yang menyatakan bahwa
terdapat hubungan yang negatif antara
penyesuaian diri dengan prokrastinasi
akademik pada siswa sekolah asrama SMP N
3 Peterongan Jombang, terbukti dan hipotesis
yang diajukan pada penelitian ini, diterima.
Saran
1. Bagi siswa diharapkan tetap
mengoptimalkan penyesuaian diri dengan
kondisi di asrama dan sekolah agar mampu
menghadapi keadaan yang sulit ditahap
kehidupan selanjutnya. Peningkatan
penyesuaian diri siswa diharapkan mampu
mengurangi prokrastinasi akademik,
sehingga siswa mampu meningkatkan
manajemen waktu di asrama agar tercipta
kebiasaan belajar yang baik.
2. Bagi pihak sekolah diharapkan terus
melakukan komunikasi dengan asrama
yayasan pondok pesantren untuk mencari
jalan keluar tentang permasalahan yang
sering dihadapi siswa di asrama terutama
mengenai waktu untuk belajar dengan
merealisasikan saran dari sekolah yang
belum diwujudkan yaitu membuat asrama
khusus untuk siswa SMP N 3 Peterongan
Jombang. Berusaha melakukan pendekatan
secara personal pada siswa yang
mengalami permasalahan termasuk
permasalahan di asrama dan berusaha untuk mendampingi siswa selama proses
penyelesaian.
3. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik
untuk meneliti tentang prokrastinasi
akademik siswa disarankan agar
mempertimbangkan faktor-faktor lain yang
mungkin berpengaruh terhadap
prokrastinasi akademik, misalnya motivasi,
trait, tipe kepribadian seperti perfeksionis,
ketakutan akan kegagalan dan dapat
melakukan penelitian dengan memperluas
orientasi kancah penelitian pada tingkat
pendidikan lain dengan karakteristik
subjek yang berbeda sehingga dapat
mengungkap banyak wacana baru dengan
daya generalisasi yang lebih luas.
Comments
Post a Comment